Orang yang Belum Selesai Menonton

Orang yang Belum Selesai Menonton
Font size:

Beberapa waktu lalu saya membuka kembali chalkboard yang dibuat untuk artikel pertama Pandit Football, analisis Italia melawan Spanyol di Euro 2012. Garis-garisnya menunjukkan posisi pemain pada waktu yang berbeda. Dalam rekaman pertandingan, seorang pemain meninggalkan satu ruang dan beberapa detik kemudian pemain lain memasukinya. Dua kejadian itu tidak tampak bersamaan. Kami memutar ulang rekaman, memeriksa perpindahan kedua pemain, lalu menggambarkannya dalam satu bidang agar pembaca dapat melihat hubungan keduanya.

 

Pemeriksaan biasanya belum berhenti di sana. Jika seorang penyerang menerima bola tanpa kawalan, kami mencari pemain yang beberapa detik sebelumnya menjaganya. Jika pemain itu sudah bergeser, kami memundurkan rekaman lagi untuk mengetahui apa yang membuatnya bergeser. Bisa jadi ia mengikuti penyerang lain. Jika demikian, lari penyerang yang tidak pernah menerima bola ikut menentukan mengapa rekannya kemudian menerima bola tanpa kawalan. Gol yang terlihat selesai dalam beberapa detik akhirnya memaksa kami menonton lebih banyak daripada beberapa detik tersebut.

 

Bagi seorang pandit, sepakbola adalah sebuah struktur yang koheren. Sebuah gol adalah ujung rangkaian sebab-akibat yang sudah dimulai jauh sebelum bola mendekati gawang. Karena itu perhatian kepada bola saja sering tidak cukup. Rekaman perlu diputar kembali, bukan untuk mengulang apa yang sudah terlihat, melainkan untuk memeriksa apakah kejadian yang mendahuluinya ikut memungkinkan apa yang kemudian terjadi.

 

Lima detik permainan karena itu kadang membuat kami memeriksa sepuluh atau dua puluh detik sebelumnya. Tulisan panjang sebenarnya hanya akibat. Begitu pula chalkboard, heatmap, statistik, dan berbagai perkakas lain yang pernah menjadi ciri analisis sepakbola. Kami tidak menulis dua ribu kata karena dua ribu kata lebih mulia daripada dua ratus kata. Kami membutuhkannya karena satu kejadian harus dihubungkan dengan kejadian lain, satu gerakan memperoleh arti dari gerakan lain, dan apa yang berlangsung pada menit ke-70 kadang baru dapat diterangkan dengan sesuatu yang mulai dilakukan sebuah tim sejak menit pertama.

 

Dulu potongan pertandingan dikumpulkan untuk menjelaskan pertandingan, sekarang pertandingan dipecah untuk menghasilkan potongan-potongan.

 

Seorang pemain melewatkan bola di antara kedua kaki lawan alias nutmeg. Video dapat dimulai ketika bola mendekatinya dan berhenti setelah lawannya terkecoh. Klip cukup berlangsung tujuh detik, bahkan bisa tiga detik jika menjadi meme. Orang dapat menonton klip itu tanpa mengetahui siapa yang mengirim bola kepadanya. Ketika klip selesai, ia dapat memutarnya sekali lagi tanpa mencari tahu apa yang terjadi setelah nutmeg tersebut. Kelucuan atau keindahannya tidak bergantung pada pengetahuan tentang apa yang terjadi tujuh detik sebelumnya.

 

Klip itu kemudian dapat dikirim kepada orang yang tidak menonton pertandingannya. Penerimanya tetap dapat menikmati nutmeg tersebut. Ia tidak perlu mengetahui skor akhir, sebab skor tidak mengubah apa yang terjadi selama tujuh detik di layar. Orang berikutnya dapat menerima klip yang sama tanpa pernah mengetahui pertandingan mana yang sedang dimainkan.

 

Perubahan semacam itu gampang sekali disalahkan kepada kecepatan. Orang sekarang disebut tidak sabar, media sosial dituduh membuat rentang perhatian manusia semakin pendek, dan tulisan panjang dianggap kalah oleh video belasan detik. 

 

Penjelasan semacam itu menyenangkan “orang-orang tua”, namun terasa terlalu mudah — dan saya selalu curiga pada penjelasan yang terlalu gampang. Bukankah orang yang tidak mau membaca analisis pertandingan selama setengah jam dapat menghabiskan satu jam untuk menonton klip-klip sepakbola? Jempolnya terus bergerak, satu klip digantikan klip lain, dan satu jam kemudian ia masih berada di sana, bahkan bisa terus sampai sembilan puluh menit.

 

Waktunya tidak hilang. 90 menit jam tetap 90 menit. Bedanya, orang itu hanya tidak menghabiskan 90 menit tersebut untuk mengikuti satu pertandingan atau satu penjelasan sampai selesai. Durasi per klip nutmeg memang pendek, tapi waktu yang dihabiskan kepada sepakbola belum tentu ikut berkurang.

 

Saya tidak mengatakan bahwa salah satu cara lebih sungguh-sungguh dalam menikmati sepakbola. Saya sendiri dapat menghabiskan waktu memeriksa satu pergerakan pemain, lalu beberapa menit kemudian tertawa melihat seorang gelandang seperti Gerrard melakukan kesalahan tolol dengan terpeleset begitu saja. Tidak ada kontradiksi di sana. Perbedaannya baru terasa ketika orang seperti kami mencoba menentukan apa yang masih perlu dijelaskan.

 

Dua belas tahun lalu kami cukup yakin bahwa banyak hal perlu dijelaskan. Artikel pertama Pandit Football mengejutkan sejumlah pembaca karena analisis pertandingan yang penuh chalkboard dan grafis belum biasa ditemukan di Indonesia. Kekagetan tersebut hanya berlangsung sebentar. Pembicaraan taktik kemudian semakin lazim dan pembaca terbiasa melihat pertandingan dibahas dengan cara yang dahulu terasa asing. 

 

Saya senang kekagetan itu hilang.

 

Beberapa tahun lalu, dalam perayaan 10 tahun Pandit Football, saya menulis sebuah kalimat yang sengaja dibuat agak provokatif: pakar telah mati. Maksudnya bukan pengetahuan mendalam kehilangan harga. Justru semakin banyak orang dapat mencari pengetahuan sendiri, memeriksa penjelasan yang mereka terima, dan membentuk pembacaannya tanpa menunggu seseorang yang menyebut dirinya ahli. 

 

Kemampuan mengetahui sendiri tidak berarti setiap orang kemudian harus melakukan pekerjaan yang dahulu dilakukan seorang pandit. Orang dapat mengetahui bagaimana pressing dijalankan sebuah tim dan tetap memilih menikmati pertandingan melalui beberapa momen yang disukainya. Ia tidak gagal memahami sepakbola hanya karena tidak menghubungkan setiap momen tersebut kepada sembilan puluh menit pertandingan.

 

Generasi kami pernah terlalu mudah melupakan batas pengetahuan kami sendiri. Ketika buku taktik sulit ditemukan dan data pertandingan belum tersedia semudah sekarang, orang yang mempunyai akses kepada keduanya dapat mengetahui dan menjelaskan hal yang belum dimengerti banyak orang. Kami kemudian terlalu mudah memperlakukan kelebihan akses itu sebagai alasan untuk menjadi otoritas dalam menjelaskan sepakbola.

 

Sekarang buku, rekaman, data, dan penjelasan jauh lebih mudah ditemukan. Orang dapat mengenali high press, half-space, overload, atau rest defence dari beberapa menit video. Ia dapat memakai istilah tersebut ketika menonton pertandingan berikutnya. Lalu tim yang sedang ditontonnya dapat bermain dengan cara yang tidak cocok dengan penjelasan yang baru saja ia pelajari. Orang itu harus memeriksa pemahamannya lagi. Seorang analis yang sudah menghabiskan berjam-jam menemukan pola pun menghadapi risiko yang sama. 

 

Karena itu saya masih menyukai chalkboard lama Italia-Spanyol tersebut. Bukan karena garis dan panah membuat analisis kami lebih dalam daripada cara orang menikmati sepakbola sekarang. Saya menyukainya karena sebelum menggambar garis, kami harus memeriksa apakah dua perpindahan pemain memang saling berhubungan. Jika rekaman menunjukkan sebaliknya, garis yang sudah dibayangkan tidak boleh digambar.

 

Mungkin pekerjaan seorang pandit dahulu terutama berada pada jeda kecil tersebut: sesudah melihat dan sebelum menyimpulkan.

 

Jeda itu tidak hilang. Siapa pun dapat mengambil jeda itu jika mau. Orang juga bebas-bebas saja untuk tidak mengambilnya ketika yang ingin dinikmati memang hanya tujuh detik nutmeg yang bagus. Karena itu saya tidak melihat alasan untuk mempertahankan, apalagi membela, sebuah nama khusus bagi orang yang memilih tinggal sedikit lebih lama di antara keduanya.

 

Dulu kami menyebut orang itu pandit. Sekarang saya lebih suka menyebutnya orang yang belum selesai menonton.

Ketika FIFA Mulai Menjual Sepak Bola ASEAN
Artikel sebelumnya Ketika FIFA Mulai Menjual Sepak Bola ASEAN
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait